Pernikahan itu Gampang-gampang sulit 😊😀😅

Hanya setiap pasang yang pikirannya terbuka mampu dan menyesuaikan diri dengan pasangannya yang akan mampu bertahan 😊

Mertua dan orangtua itu hanyalah orang luar sejak kita membangun keluarga kecil. Penasehat utama dan Ibu suri bukan penentu keputusan keluarga kecil kita😇

Menitipkan anak pada orang tua biayanya harus berkali-kali lipat daripada Rumah Penitipan ataupun babysitter. Pada orang tua karena mereka sudah saatnya pensiun. Kitalah yang bertanggung jawab penuh terhadap segala keperluan dan kebutuhan anak kita sampai masa kesudahanNya

 

Berikut ini tulisan Ribka Imari tentang konflik rumah tangga 💖💖💖

"Pentingnya Mengenali Inner Child Sejak Sebelum menikah"

Ameli Devina memberikan penjelasan tentang mengenal konsep inner child yaitu Dalam dunia psikologi populer, konsep Inner Child – juga disebut sebagai the Divine Child, Wonder Child, the True Self, atau sederhananya, the Child Within – mengarahkan pada sebuah bagian dari kepribadian orang dewasa yang menyimpan perilaku, kenangan, emosi, kebiasaan, sikap, dan pola pikir saat kita masih anak-anak dan remaja.

 

TTM, Teman sekantor Tapi Menikah😍😍

Belakangan sering baca TTM, ternyata itu judul film. Aku yang kudet nih😃😃

10 tahun bersama,
Sejak sekantor sampai sekarang sehidup sesurga. InsyaAllah. Aamiin.
Dan aku masih tetap dan selalu bahkan semakin mencintamu karena Allah SWT saja yang memberi rasa ini.masyaAllah...karena kalau mengandalkan kemampuan diri sendiri, rasanya ga akan bisa bertahan selama 10 tahun bahkan rasanya mustahil untuk bisa semakin mencintaimu.

10 tahun perjuangan, 


Karena 10 tahun bersamamu, ternyata adalah 10 tahun perjuanganku mengasuh Inner Child dan membebaskan diri dari Mental Korban. Yang baru saja kupahami 2 tahun terakhir ini. Sejak mengenal kelas Mindfulness Parenting dari mentorku Pak Supri Yatno. Dulunya kuamati, asalkan aku ga nangis histeris (akibat Inner Childku yang ga bisa dibentak), suami tak akan terpicu (Inner Child suami yang tak boleh menangis). Sepele memang kelihatannya, tapi masalah IC ini benar2 bisa jadi masalah besar jika pasangan suami istri tidak menyadarinya sejak dini. Jika sudah pada titik jenuh, sangat mungkin keduanya akan menyerah saja karena merasa sudah tak menemukan kecocokan lagi.

 

Dan sejak mendalami Mindfulness, aku semakin memahami bahwa ICku dan IC suami selalu saling memicu. Jadi bismillah aku yang harus kuat. Toh bukan tentang KDRT berat dan tentang selingkuh. Jika ini masalahnya, mungkin aku benar2 menyerah. Tapi aku yakin, Allah SWT Maha tau kekuatanku, sehingga aku memohonkan kekuatan dan belajar menguatkan diriku sendiri untuk terus berjuang. Jika Allah ijinkan aku bisa menjadi pejuang dari perubahan keluarga kecilku, mengapa tidak?

 

Ya, cinta itu perjuangan. Bukan pengorbanan. 
Karena tidak perlu ada yang menjadi korban dalam rumah tangga kita. Karena aku semakin paham, kau tak akan mengorbankanku andai Inner Childmu tak terpicu. Begitupun sebaliknya.

Aku yakin Allah selalu memberiku kekuatan untuk berjuang hingga bisa sampai dititik bertahan seperti sekarang ini. Karena sejak awal aku sangat yakin 90% suami adalah yang terbaik dari Allah.

 

Bersyukur Allah memberiku pencerahan lewat pelajaran hidup masa lalu yang tak ingin kuulangi untuk anak2ku. Dan pelajaran di kelas Mindfulness Parenting membuatku semakin bertekad untuk memutus rantai perlukaan batin karena melihat orang tua yang terbelenggu dalam pernikahan selama 40 tahun tapi tidak pernah akur apalagi harmonis. Begitupun dengan kedua orang tua suami.

 

Aku dan kau memang tak punya contoh nyata sosok orang tua yang pernikahannya harmonis hingga akhir hayat. Tapi aku bersyukur memilikimu sebagai sosok pasangan yang punya komitmen kuat untuk berjuang menjadi role model yang baik bagi anak2 kita. Terseok2 berdua berusaha ga mengulangimencari pelajaran kehidupan pernikahan yang sehat.

 

Mengenal definisi Inner Child dan Mental Korban membuatku mampu menerima 10% kekuranganmu suamiku. Karena ternyata Allah sebenarnya sudah memberi 100% suami dan ayah terbaik untukku dan 2 anakku, hanya saja aku yang bermasalah dengan kenangan masa kecil tentang sosok ideal seorang suami yang tak kudapati di bapakku. Hal itu pernah membuatku sangat membenci 10% kekurangan suamiku dan pernah membuatku sangat ingin menyerah saja. Padahal setiap kali kuingat2 segala kebaikan suami adalah 90% terbaik.

 

Dulu terseok2, tapi sejak kenal Mindfulness Parenting jadi bisa 
menerima sepenuhnya kenangan buruk masa laluku, bukan menghapus luka batin itu yang sudah terlanjur digores kedua ortuku selama 37 th usiaku. Tapi menjadikan luka batin itu sebagai pelajaran berharga, untuk tidak mengulanginya lagi ke anak2 kami. Tapi untuk aku, kamu dan kami bangkit menata masa depan penuh harapan bersama suami, membesarkan 2 anak kami dengan cinta dan kasih sayang yang tulus sebagai orang bukan menuntut pamrih pada anak. Stop sampai di aku saja ketika perasaan hancur karena ortu menuntut pamrih. Jangan sampai terulang ke anak2ku.

 

Aku tahu, perjuangan 10 tahun bersama ini belum seberapa berat dengan segala kemungkinan ditahun2 mendatang. Masih panjang perjuangan melepas ego lainnya demi anak2 yang tumbuh dan kembang sehat jiwa raganya. Karena pada akhirnya memang yang terberat adalah mengasuh diri sendiri, mengendalikan ego diri sendiri. Tapi cukuplah sampai disini aku terseok2 mengasuh diri sendiri. Jika Allah ijinkan umurku pajang, aku ga mau sampai menua nanti justru aku membuat anak cucuku sibuk dan repot menghadapi apalagi sampai mengasuh aku dan suami yang kembali seperti anak kecil lagi sifatnya. Untuk itu aku bertekad, tak mengapa repot sejak sekarang saat mengasuh diriku, mengasuh suamiku mengasuh kedua anakku.

 

Setelah semakin mengenali diri sendiri, semakin bisa berdamai menerima masa lalu, benar2 berusaha berdamai dan menerima bukan berusaha melupakannya apalagi menghapus masa lalu. kini langkahku terasa lebih ringan hadapi kenyataan hidup sesulit dan sepahit apapun. Semakin aku tak lagi memikirkan nasibku mengidap Depresi, Bipolar, Trauma (Post Traumatic Stress Disorder), dan segala gangguan kesehatan mental lainnnya. Aku fokus pada 1 hal yang aku yakini, tak ada perjuangan yang sia2. kalau aku belajar dan berjuang bisa sabar semua akan baik2 saja dan aku yakin akan ada hadiah terindah dari Allah SWT bagi istri dan ibu yang penyabar.

 

Termasuk sabar berproses menempuhi jalan menyembuhkan gangguan mentalku. Mengurainya satu per satu saat ini . Sama seperti dulu aku sabar bertahun2 fokus menyembuhkan gangguan pencernaanku karena 2x sakit tipus dan 1x diopname, aku ga mau terulang lagi diopname jadi aku berusaha mengenali kesehatan tubuhku sendiri. Menghindari makanan dan minuman yang memicu maag. Lalu kemudian berjuang bertahun2 menyembuhkan gangguan kesehatan organ reproduksiku, kista selama 17 tahun. Perjuangan yang sangat tak mudah untuk akhirnya bisa sembuh dan hamil setelah berobat ke 9 dokter kandungan dalam kurun waktu 7 tahun sejak dari semasa kuliah.

 

Memang hanya Allah SWT satu2nya sang pemberi kesembuhan, tapi sebagai manusia diberi akal pikiran untuk mengusahakannya termasuk meminta pertolongan ahlinya baik secara langsung mendatangi psikolog dan psikiater maupun secara online oleh terapis untuk perbaikan kesehatan jiwaku.

 

Berdoa terus, bismillah terus, ikhtiar terus, hasilnya serahkan kepada Allah SWT. Yakin dan percaya semua ada akhirnya. Dan perjuangan ini pun akan indah pada waktuNYA. Allah SWT memberkahi pernikahan dan keluarga kecil ini sampai ke JannahNYA. Aamiin..

 

Jadi, dengan kita mengenali dan memahami definisi inner child pada diri kita maupun pada diri suami, maka dapat meminimalisir adanya konflik dalam keluarga.