Biarkan Saya Marah..

Oleh Intan Maria Halim, S.Psi

 

Marah atau kemarahan terkait dengan hal-hal yang negatif. Padahal marah adalah emosi netral kita untuk menyatakan tidak suka dan tidak setuju terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai kita. Apakah kita perlu mengatasi kemarahan? Bagaimana kemarahan yang positif itu?

 

Psikoterapi tradisional mengijinkan kesadaran emosi sebagai cara untuk mengubah hidup dan mendamaikan diri. Para pasien diminta mengungkapkan apa saja yang telah membuat mereka marah, sedih, merasa bersalah dan upaya yang ditempuh dalam mengubah situasi yang membuat perasaan-perasan itu terjadi khususnya hal yang terkait dengan kemarahan.

 

Keluarga adalah faktor terpenting dalam kehidupan manusia dimulai sejak dia sebagai sebuah janin. Dalam keluarga yang terbiasa dengan pengungkapan dan pembicaraan tentang perasaan dan emosinya secara terbuka akan membuat anak mengembangkan perbendaharaan kata untuk memikirkan dan mengungkapkan emosinya serta jalan untuk menyelesaikan masalah emosinya. Dalam keluarga yang terbiasa menekan serta meniadakan pemahaman akan emosi dan menghindari komunikasi emosi, anak anak akan bisu secara emosi atau meledak dalam emosinya.

 

Hal mengenai kebocoran emosi itu perlu untuk dipahami dan dimengerti. Belajar mengenali dan mengungkapkan emosi adalah bagian yang penting dalam komunikasi di keluarga, dan sebagaimana akan kita lihat, juga merupakan aspek penting terkait pengendalian emosi.

 

Lalu, apakah emosi itu?

Wikipedia menyebutkan Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian.  Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu.

 

Pada dasarnya emosi bersifat netral dan menunjukkan sikap kita. Hal itu menjadi bermasalah saat akibat dari emosi itu merusak dan menghancurkan serta membuat menyesal. Oleh karena itu ilmu kecerdasan emosi dangat penting bagi kita dalam kehidupan sosial. Banyak guru dan orang tua berusaha untuk menemukan cara mengatasi emosi anak yang meledak-ledak, dan menemukan penyebab anak remaja mudah marah serta mengatasi anak pemarah dan cengeng. Jika kita cermati, masalah emosi pada anak menjadi topik hangat dalam dunia parenting saat ini. Yuk mari kita belajar tentang kecerdasan emosi selain sikap atas marah itu sendiri.

 

Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh Psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Meyer dari University of New Hmpshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas ini antara lain adalah:

·         Empati

·         Mengungkaokan dan memahami perasaan

·         Mengendalikan amarah

·         Kemandirian

·         Kemampuan menyesuaikan diri

·         Disukai

·         Kemampuan memecahkan masalah antarpribadi

·         Ketekunan

·         Kesetiakawanan

·         Keramahan

·         Sikap Hormat

Emotional intelligence menjadi lebih diketahui melalui buku best-seller karya Daniel Goleman yang laris pada tahun 1995 (dari buku mengajarkan Emotional Intelligence pada anak.

Biarkan aku marah.. berbicara tentang sebuah penyataan ketidaksukaan kita. Marah prinsipnya harus mendatangkan solusi dan membawa kebaikan bagi kita bukan kerusakan itulah cerdas emosi.

Marah yang positif bisa dikelola dengan belajar berbicara secara asertif. Asertif adalah jalan tengah antara komunikasi agresif dan pasif. Marah asertif menyatakan hak kita, mengkomunikasikan pikiran, perasaan, dan keinginan secara jujur kepada orang lain tanpa merugikan orang lain maupun diri sendiri. Marah yang agresif berkomunikasi yang menyerang orang lain. Marah pasif akan berdiam diri dan memendam, mengalah yang tidak bagus karena nantinya akan meledak. Diperlukan asertif training bagi teman-teman yang belum mampu berkomunikasi.

Dengan asertif training akan mengurangi kita terkait kesulitan dalam mengontrol emosi baik marah, takut atau jijik. Asertif digambarkan sebagai jalan tengah komunikasi yang memegang prinsip kita tanpa menyerang orang lain. Marah dengan asertif dalam psikologi lebih mudah mendatangkan solusi.

 

Inilah teknik mengatasi masalah emosi kita khususnya kemarahan.

1.       Sadari dan terima bahwa kita sedang marah. Ucapkan berulangkali SAYA MENERIMA SAYA KESAL KEPADA….. SAYA MARAH SEKALI DENGAN… KARENA… ucapkan berulang kali hingga tenang. Gunakan Seni Acceptance, jika membutuhkan belajar acceptance dapat menghubungi WA kami.

2.       Ketika kemarahan sudah mereda, coba berkomunikasi dengan kata “Saya”. Kata “saya” memberikan gambaran sebagai pelaku, hal yang membuat kita marah saya bisa kendalikan bukan sebagai korban, bukan kata “Kamu”. Kata “Kamu” cenderung menyalahkan dan menyulut emosi “kamu tuh selalu begitu”, “Kamu itu tidak baik dan ceroboh”. Ganti dengan “saya ingin sekali kamu mengerti bahwa saya terganggu dengan dengkuranmu”. Percakapan seperti ini akan mengajak orang untuk mendengar perasaanmu.

3.       Mengambil nafas panjang memahami situasi orang lain terlebih dahulu, dan disaat yang sama tetap memegang prinsip kita. Misalnya ada orang meminta barang kita yang masih kita perlukan dan memaksa kita bisa menjawab dengan “Saya paham kamu kecewa, tetapi maaf saya tau kamu sangat menginginkannya tetapi saya lebih membutuhkannya sejak kemarin dengan mempersiapkannya dari semalam untuk tes ini”

4.       Mengatakan dan mengekspresikan keinginan dengan jelas dan mudah dimengerti, bukan menyuruh orang menebak dan langsung mengerti tentang kita. “Saya sedang sakit, saya butuh waktu untuk berbaring sebentar ya, maaf saya tidak bisa membantu”

5.       Pastikan sikap tubuh juga mengekspresikan atau mencerminkan Bahasa yang sama denga pikiran dan perkataan kita. Seringkali kita tidak setuju tetapi tersenyum sungkan.

Mengatasi marah yang berlebihan bisa diatasi dengan belajar berkomunikasi secara asertif terhadap hak-hak kita. Sikap ini diperlukan untuk menyadari emosi dan membuat diri fokus pada solusi.

 

Nah sobat super pulih, jika ingin marah. Ya marah saja yang penting mendatangkan solusi dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.


Mau tau kadar kemarahan anda? yuk klik TES TINGKAT KEMARAHAN