Mengatasi emosi anak yang tidak stabil


Emosi setiap anak tidaklah sama, beberapa anak dapat dengan mudah untuk mengatasi emosinya sendiri namun ada juga anak yang sukar mengendalikan emosi. Untuk itu perlu adanya pendekatan khusus untuk mengenali emosi anak.


Bagi seorang ibu mengatasi emosi anak yang tidak stabil adalah tantangan. Mengapa emosi anak menjadi tidak stabil? Emosi anak menjadi tidak stabil dikarenakan oleh kritik yang berlebihan. Aturan pertama dalam mengkritik anak adalah harus teliti. Seligman menulis: “ Menyalahkan secara berlebihan menimbulkan rasa bersalah dan malu lebih daripada yang diperlukan untuk membuat anak berubah. Namun, tidak menyalahkan sama sekali dapat mengikis rasa tanggung jawab dan meniadakan kemauan untuk berubah.”

Kedua, kembangkan gaya pemberian penjelasan yang optimistis; uraikan masalah secara realistis apabila penyebabnya spesifik dan dapat diubah. Lawrence, 105:1997. Sikap mengkritik atau menegur anak tentu berpengaruhi terhadap cara pandang mereka terhadap kehidupan, secara optimistis atau pesimistis. Dengan kata lain kritik haruslah bersifat membangun dan membuat mereka memiliki pandangan optimis terhadap kehidupan.


Sebagai contoh seorang ibu memberikan kesepakatan dengan anaknya yaitu Aya, 8 tahun. Kesepakatannya adalah jika bermain maka harus mengembalikan atau membereskan mainannya. Aya setuju terhadap kesepakatan itu untuk melatih tanggungjawabnya. Suatu saat Aya meninggalkan mainannya tanpa membereskan terlebih dahulu. Ketika pulang bekerja, sang orangtua kesal Aya telah melanggar kesepakatan dan  melihat rumah berantakan. Sang ibu menunjukkan muka marah dan mengajaknya ke kamar untuk memberitahu alasan mengapa ia marah. “Aya, kamu telah meninggalkan tanggung jawabmu yang membuat ibu marah”. (menunjukkan kritik yang spesifik, ia menjelaskan perasaannya dengan jelas).

“Tadi pagi ibu telah mengingatkanmu apabila setelah bermain, kamu harus membereskannya kembali, namun apa yang kamu lakukan? Meninggalkannya tanpa membereskannya terlebih dahulu’” (sang ibu menceritakan masalah Aya dengan cermat)

“Karena kamu tidak membereskan mainanmu, rumah jadi berantakan. Terpaksa ibu harus membereskannya disaat ibu masih lelah sepulang bekerja. Padadal kamu sepakat bahwa mainanmu sendiri adalah tanggungjawabmu, bukan tanggung jawab kami” ( Sang ibu menerangkan dengan tepat semua penyebab masalah serta akibat. Ia juga menyalahkan putrinya dengan tegas).

 “ Ibu ingin kamu masuk ke kamar selama 15 menit dan renungkan apa yang telah ibu katakan kepadamu! Kemudian kamu harus memberitahu ibu bagaimana rencana kamu untuk menata mainanmu, dan kejadian ini tidak terulang lagi.” ( hal ini realistis bagi anak umur delapan tahun untuk memecahkan sebuah masalah).

contoh diatas merupakan kritik yang tepat dan solutif untuk mengatasi emosi anak yang tidak stabil.


Kritik berlebihan yang dilontarkan sangat mempengaruhi emosi anak. Alasan tersebut yang membuat seorang ibu harus berhati-hati dalam mengatasi emosi anak yang tidak stabil . Apabila penanganan emosi anak yang tidak stabil tidak tepat akan berdampak buruk bagi sang anak. Sikap marah yang berlebih akan membuat sang anak tertekan secara batin maupun mental. Bahkan anak juga bisa tidak suka bahkan membenci kepada orangtuanya sendiri. Untuk itu penting bagi orangtua untuk mengenalan emosi anak  dan mengetahui cara mengatasinya.


Cara lain untuk mengatasi emosi anak yang tidak stabil yaitu mengajarkan untuk mengungkapkan perasaan. Hindari anak untuk meluapkan emosi tanpa alasan yang jelas. Apabila sang anak tidak suka terhadap sesuatu maka ajak mereka untuk berdiskusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Gunakan pendekatan intern (dari hati ke hati) jangan terpancing emosi yang berlebihan. Karena anak cenderung meniru sikap orang tua. Selain itu juga ajari anak untuk tidak memendam marah.  Ketika seseorang marah maka adrenalin akan meningkat dan nantinya meningkatkan resiko agresif dan kekerasan. Untuk itu langkah terbaik sebagai cara meredam emosi  adalah dengan mengajarkan anak untuk bisa mengalihkan semua adrenalin pada sesuatu hal yang lebih positif dan produktif sekaligus tidak membahayakan dirinya maupun orang lain.


Demikian cara dan langkah Mengatasi emosi anak yang tidak stabil.


 


Beberapa kutipan disadur

dari buku Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak

dari web dosenpsikologi.com