Peran emosi dalam perkembangan anak sangatlah penting.  Emosi dapat berpengaruh pada perkembangan diri maupun perkembangan sosial pada anak. Lalu, bagaimana emosi anak usia dini? Dan bagaimana orangtua harus bersikap?


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI), emosi merupakan luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu yang singkat. Biasanya emosi merupakan reaksi yang timbul akibat rangsangan dari dalam maupun luar individu. Berikut adalah beberapa emosi anak usia dini.


Malu


Rasa malu anak usia dini biasanya timbul saat ia ragu akan kemampuan dirinya. Sebagai contoh yaitu anak suka menyanyi, hampir setiap hari sang anak menyanyi di rumah. Namun ketika mendapat tugas menyanyi di depan kelas, sang anak merasa ragu akan kemampuannya dan ia merasa malu untuk tampil di depan kelas.  Dalam hal ini penting bagi orang tua untuk melatih sang anak mengendalikan rasa malunya dengan membiasakan sang anak tampil di depan umum.


Selain itu rasa malu juga dapat mengajarkan nilai-nilai moral yang baik pada anak.  Hal ini berkaitan dengan rasa malu yang timbul akibat tidak sesuai dengan norma atau aturan yang ada. Dalam banyak budaya , malu adalah cara yang tepat untuk menghukum orang yang berperilaku antisosial. Ada dua syarat yang harus diperhatikan dalam menggunakan rasa malu sebagai bagian dalam pengasuhan anak.  Yang pertama yaitu upaya memperlakukan harus diberikan apabila seorang anak tidak memiliki reaksi emosi setelah melakukan sesuatu  yang seharusnya membuatnya malu. Yang kedua adalah upaya mempermalukan harus dipertimbangkan sebagai strategi pengubahan perilaku yang sah apabila cara pendisiplinan yang lebih lunak diianggap gagal. (Lawrence, 76-77: 1997)


Amarah


Amarah seorang anak cenderung kurang stabil. Apabila seorang anak marah biasanya dikarenakan ia merasa kecewa atau sedih terhadap suatu hal. Sebagai contoh: Anak menginginkan sebuah mainan, namun sang ibu tidak membelikannya karena uang yang dimilikinya tidak cukup untuk membeli mainan tersebut. Sang anak marah kepada ibunya dan kemudian ia menangis. Dalam situasi ini sang ibu tidak boleh terpancing amarah. Harus bersikap sabar dalam mengatasi hal tersebut.


Empati


Rasa empati merupakan emosi individu yang berhubungan dengan orang lain. Empati timbul karena ada kepedulian terhadap orang lain dan seakan merasakan apa yang orang lain rasakan. Rasa empati ini juga perlu ditanamkan pada anak sejak dini. Hal ini akan berdampak baik pada hubungan masyarakat si anak kelak. Yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah waktu mengajari anak-anak bersikap peduli kepada orang lain, tidak ada yang dapat menggantikan pengalaman; tidak cukup bila ini hanya dibicarakan.( Lawrence, 59-60:1997) Orangtua harus memberi contoh dan memberikan kesempakan kepada anak untuk ikut andil dalam bagian.


Senang atau Bahagia


Rasa senang atau bahagia pada anak dapat timbul karena mendapat sesuatu yang ia inginkan. Selain itu juga bisa karena kasing sayang  yang ia peroleh dari orangtua maupun orang sekitar.  Penting bagi orangtua untuk membuat sang anak merasa senang atau bahagia. Hal ini akan berpengaruh pada perkembangan psikis maupun mental anak. Rasa bahagia akibat hubungan yang terbuka dan saling menyayangi dengan anak akan memberikan efek jangka panjang berupa meningkatkan citra diri, ketrampilan menguasai situasi, dan mungkin kesehatan anak (Lawrence, 29: 1997).


Dari uraian diatas terlihat bahwa pada umumnya emosi anak usia dini belum stabil dan cenderung lebih emosional daripada orang dewasa. Karena itulah orangtua perlu memperhatikan, membimbing, dan melatih perkembangan emosi anak. Jika perkembangan emosi anak usia dini mendapat perhatian penuh, tentulah berdampak positif bagi si anak untuk mengontrol emosi. Memiliki kontrol emosi yang baik dapat mendorong anak untuk mengembangkan kemampuan dirinya seperti kemampun intelektual, imajinasi, maupun hubungan dengan orang lain.


 


 


Beberapa kutipan disadur


Dari buku Mengajarkan Emotional Intellegence pada Anak