Anak yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi seringkali diidamkan oleh orangtua. Apalagi jika anaknya selalu berani mencoba hal baru dan mampu berinisiatif. Namun, pada beberapa anak memiliki tingkat kepercayaan yang rendah bahkan cenderung penakut. Banyak hal yang menyebabkan anak kurang percaya diri. Salah satunya adalah kekerasan verbal yang dilakukan orangtua. Baik itu dilakukan secara sengaja atau tidak. Kekerasan verbal orangtua dapat berdampak pada anak menjadi kurang percaya diri.

Apa itu kekerasan verbal?

Kekerasan tidak hanya terjadi secara fisik dan bisa terjadi di mana saja. Salah satu jenis kekerasan yang sering terjadi adalah kekerasan verbal. Sering kita mendengar istilah kekerasan verbal, tetapi apa definisi kekerasan verbal?

Mengutip dari tabloid-Nakita.com, kekerasan verbal adalah kekerasan terhadap perasaan menggunakan kata-kata kasar tanpa menyentuh fisik. Kekerasan ini tak kalah sadis dengen kekerasan fisik meskipun secara fisik tidak terlihat bekasnya. Sayangnya, kekerasan verbal seringkali tidak disadari baik oleh pelaku maupun korban. Padahal Kekerasan verbal orangtua bisa menyebabkan efek psikologis yang besar.

Kekerasan Verbal yang Menyebabkan Anak Kurang Percaya Diri

Kepercayaan diri anak bukan bawaan lahir maupun sesuatu yang bisa secara instan. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri harus bisa memberikan pengasuhan yang mendukung untuk peningkatan kepercayaan diri anak. Beberapa orangtua secara tak sadar kadang melakukan kekerasan  secara verbal kepada anaknya. Hal ini bisa menurunkan tingkat kepercayaan diri anak dan membentuk pribadi yang kurang percaya diri. Berikut beberapa kekerasan verbal orangtua yang berpotensi bisa menurunkan tingkat kepercayaan diri anak.

1.      Membentak

Ketika sedang marah, ada diantara orangtua yang membentak anaknya. Membentak sejatinys adalah hal spontan yang dilakukan orangtua untuk menunjukkan superioritasnya. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian anak kepadanya. Ketika membentak terdapat gelombang suara disertai gelombang emosi yang dihasilkan otak kiri. Gabungan kedua gelombang ini bisa bersifat destruktif pada otak anak. Anak-anak yang sering dibentak akan tumbuh menjadi anak yang tertutup, minder, kurang percaya diri, bahkan ragu-ragu setiap mengambil keputusan. Namun, sebaliknya bisa juga anak tumbuh menjadi pribadi yang pemarah, egois, keras kepala, suka menantang, hingga apatis tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

2.      Meremehkan

Meremehkan sepertinya memang terdengar sepele, apalagi jika yang diremehkan adalah anak-anak. Masih banyak orangtua merasa bahwa anak-anak belum bisa mengerti apa yang telah diucapkan  oleh orangtuanya. Misalnya orangtua gemar sekali meremehkan usaha anak dengan melontarkan kalimat, "kamu tidak akan bisa naik sepeda itu, kan kamu masih kecil." Hal seperti ini memang terdengar sepele bagi orangtua, namun bisa menurunkan kepercayaan diri anak.

3.      Menginterupsi

Anak-anak biasanya suka bercerita. Banyak hal yang menarik perhatiannya diceritakan kepada orangtuanya. Orangtua sebaiknya mendengarkan cerita anak dan memberikan tanggapan yang sesuai. Namun, ada beberapa orangtua yang lebih suka menginterupsi cerita anaknya. Bahkan memotong ceritanya ketika dianggap tidak penting. Apabila orangtua melakukan ini, anak akan merasa diabaikan dan enggan bercerita lagi. Rasa tidak didengarkan bisa juga menurunkan kepercayaan diri anak karena menganggap tidak ada yang mau mendengarkannya.

4.      Membandingkan dengan Anak Lain

Setiap anak itu unik dan memiliki kelebihannya masing-masing. Tidak semestinya anak dibandingkan dengan anak lainnya meskipun itu saudaranya sendiri karena mereka merupakan pribadi yang unik. Sayangnya, masih banyak orangtua beranggapan membandingkan anak bisa menjadi motivasi untuk anak tersebut. Padahal ketika dibanding-bandingkan terutama yang berhubungan dengan fisik dan kemampuan akademis, anak bisa jadi merasa tersinggung. Kebiasaan dibandingkan ini lama kelamaan akan membuatnya kehilangan semangat untuk mengejar prestasi, kurang percaya dengan kemampuannya, cenderung individualistis dan egois.

5.      Mengancam

Ancaman masih menjadi salah satu cara ampuh untuk mendisiplinkan anak dengan cara cepat. Cara ini memang terlihat bukan suatu pola asuh yang baik. Namun banyak orangtua masih menerapkannya. Memang anak akan seketika menuruti orangtuanya jika sudah melakukan ancaman, tetapi hal ini hanya bersifat sementara. Anak cenderung mengabaikan atau menentang jika ancaman yang ia terima ternyata tak terbukti. Orangtua harus membuat ancaman baru untuk mendisiplinkannya kembali. Ada dampak buruk jika anak seringkali diancam. Anak akan tumbuh kurang percaya diri dan sering merasa takut. Namun, sebaliknya anak bisa pula menjadi pemberontak karena menganggap bahwa ancaman orangtuanya hanya isapan jempol semata.

6.      Memberi Label Negatif

Menyebut anak dengan sebutan anak nakal, anak cengeng, merupakan tindakan memberi label negatif. Label negatif ini bisa meruntuhkan kepercayaam diri anak karena merasa bahwa dirinya buruk.

7.      Menuduh

Tak jarang orangtua menuduh sendiri anak-anaknya terhadap hal sepele. Misalnya, seorang anak secara tak sengaja mmenyenggol gelas hingga terjatuh, tetapi ibunya langsung menuduhnya memecahkan gelas. Hal ini bisa menyinggung perasaan anak dan membuatnya sedih. Jika orangtua sering melakukan tuduhan kepada anaknya, anak akan kehilangan kepercayaan dirinya karena merasa selalu salah di mata orangtuanya.

Di atas merupakan beberapa jenis kekerasan verbal orang tua yang sering dilakukan terhadap anaknya. Memang terlihat sangat sepele bahkan kadang tak disadari oleh pelaku atau orangtua bahwa ia telah melakukan kekerasan secara verbal terhadap anaknya. Anda pernah melakukan Kekerasan verbal orangtua  nomor berapa? Semoga tidak ada ya, jika pernah dilakukan maka orang tua dapat segera berbenah dan berkonsultasi dengan psikolog jika diperlukan.


Ratna Pillar