Asisten pengajar heran ketika Albert Einstein memberikan kertas ujian kepadanya. Penasaran dengan tingkah dosen eksentrik itu iapun bertanya, “Bukankah ini ujian yang sama dengan yang Anda berikan pada kelas ini tahun lalu?”

“Ya, ya itu.” Jawab Albert Einstein.

Dengan berani, kembali Asisten pengajar itu melemparkan pertanyaan. “Tapi bagaimana Anda bisa memberikan ujian yang sama ke kelas ini dua tahun berturut-turut?”

“Karena jawabannya telah berubah!” Ucap Einstein.

 

Satu pertanyaan beda jawaban

“Kenapa kamu bekerja?”

Banyak orang tidak bisa bekerja dengan hati dalam mengerjakan pekerjaan mereka. Dan banyak di antara orang tersebut yang merasa kehilangan identitas dirinya dalam bekerja. Salah satu penyebabnya adalah orientasi kerja yang tidak tepat. Pada zaman ini, masih banyak orang yang menganut paham cara kerja era industri. Ini terlihat dari isu keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan. memprihatinkan.

Karena konsep mengenai Work-Life Balance merupakan teori yang dikembangkan di Inggris dan Amerika antara tahun 1970-1980 yaitu pada era industri. Bagaimana bisa cara lama di era industri tersebut kita terapkan di penghujung era data ini? Jika dalam ilmu pasti saja jawaban bisa berubah dalam waktu 1 tahun. Bagaimana dengan kehidupan, di mana tidak ada rumus tertentu yang bisa dijadikan pakem dalam mengurainya.

40 tahun lalu adalah era industri. 20 tahun lalu adalah era informasi. Dan sekarang, kita berada di ujung era data. Kemudian tepat di depan mata kita ada era baru entah apa namanya ( mungkin era AI ). Dunia yang kita lihat sekarang akan berbeda di masa depan. Lalu bagaimana kita bisa menjawab tantangan di masa depan dengan jawaban yang diwariskan kepada kita sejak 40 tahun yang lalu?

Sebagai manusia, kita membutuhkan alasan yang kuat untuk melakukan suatu pekerjaan. Dan alasan yang kuat itu berarti alasan yang sesuai dengan nilai-nilai positif yang ada di masyarakat. Memperkuat prinsip yang kita junjung. Sekaligus membantu kita untuk mengeluarkan warna diri kita.

Untuk menyongsong masa depan, orang harus bisa menemukan jawaban dari ‘Kenapa’ mereka dalam bekerja. Semua orang membutuhkan tujuan hidup yang selaras dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Karena di masa depan dunia kerja akan mengalami perubahan yang besar. Dan kehilangan identitas di tempat kerja sangat mungkin akan terus terjadi. Kecuali jika kita bisa mengubah ‘kenapa’ kita menjadikannya sebuah tujuan yang jelas. Sehingga kita bisa bekerja dengan sepenuh hati.

 

Visi

Dari sejak awal mendirikan perusahaan hingga pensiun dari perusahaan, kemudian menjalankan yayasannya. Bill Gates tidak pernah mengubah tujuan dari kenapa ia melakukan sesuatu. Dia meletakkan tujuan hidupnya ke dalam pekerjaannya yaitu untuk memecahkan masalah orang, supaya mereka bisa mengembangkan potensi diri mereka. Bill Gates percaya bahwa setiap orang memiliki potensi yang besar di dalam diri mereka. Dan dibutuhkan orang lain untuk memecahkan beberapa masalah yang mereka hadapi, supaya mereka bisa melepaskan kekuatan terpendam dari dalam diri mereka.

Ketika mendirikan Microsoft, Bill Gates memiliki visi setiap rumah akan memiliki minimal 1 komputer. Untuk mencapai visinya, ia mendirikan perusahaan piranti lunak dengan harga yang sangat terjangkau. Bill Gates tahu bahwa salah satu hal yang membuat komputer mahal adalah cost produksi piranti lunak. Gates memecahkan masalah tersebut. Dan sekarang, komputer bisa dibeli dengan harga terjangkau oleh banyak orang di seluruh belahan bumi.

Tujuan Gates tercapai. Dengan komputer, banyak orang yang bisa mengembangkan potensi dirinya. Hal yang unik adalah Microsoft, perusahaan yang didirikan oleh Gates tidak pernah membuat komputer!

Begitu pula ketika ia pensiun. Ia masih saja ‘bekerja’ untuk memecakan masalah orang, supaya mereka bisa mengembangkan potensi diri mereka. Kini Gates dengan yayasannya memecahkan masalah kesehatan di seluruh belahan dunia. Dan sekarang Gates mempunyai visi tidak ada lagi orang yang mati karena malaria.

Ketika seseorang bisa meletakkan tujuan hidupnya ke dalam pekerjaannya. Maka pekerjaan tersebut akan berubah menjadi alat bagi misi untuk mencapai visi di dalam hidupnya. Tujuan hidup setiap orang seharusnya tidak bertentangan dengan pekerjaannya. Karena pertentangan inilah yang membuat waktu dan energi orang  tercerabut. Inilah yang membuat orang merasa kehilangan identitas dirinya. Disebabkan ia harus mengejar satu tujuan dalam bekerja, dan mengejar tujuan lainnya di luar kerja. Ini akan membuat orang untuk enggan bekerja dengan hati. Sementara itu, kompleksitas pekerjaan semakin meningkat. Yang artinya akan semakin banyak waktu dan energi yang harus dicurahkan untuk pekerjaan.

Penting bagi setiap orang untuk menemukan tujuan hidupnya, kemudian meletakkannya ke dalam pekerjaannya. Karena ini akan membuat ia bekerja dengan passion dan fokus yang lebih baik. orang-orang yang berkerja berlandaskan tujuan hidupnya. Akan merasa hidupnya berarti bagi orang lain. Dan ia akan mampu menemukan identitas diri serta warna dirinya yang sesungguhnya. Saya kira jawaban terbaik yang bisa kita berikan ketika ditanya dengan pertanyaan kenapa kamu bekerja. Adalah dengan menjawabnya menggunakan tujuan hidup kita. Yaitu untuk memberikan kontribusi kepada orang lain, supaya lingkungan tempat kita tinggal menjadi tempat yang lebih baik.